Krupuk.. Kriyuk!

Kemarin, gue dan suami makan di rumah makan di salah satu ruko di daerah BSD. Pesan 1 porsi nasi langgi dan 1 porsi nasi bogana. Yang disajikan ke meja kami adalah satu ‘piring’ (wadah anyaman dengan alas daun pisang) nasi langgi, satu ‘piring’ nasi bogana, dan satu ‘piring’ berisi 2 krupuk terung (krupuk putih). Saat itu gue udah curiga, dan berpikir, nih krupuk termasuk lauk bagian dari nasi langgi dan nasi bogana atau nanti bakal di tagihkan. :-? Salahnya kami malas bertanya.

Toh, saat membayar, gondok juga karena ternyata krupuknya ditagihkan. Bukan masalah harga yang harus dibayar (2x @ Rp 1000,-), tetapi lebih karena menurut gue, si penjual tidak fair karena menyajikan krupuk itu bersamaan dengan saat menyajikan pesanan kami, dengan ‘piring’ yang sama dengan ‘piring’ nasi kami dan tanpa plastik pembungkus, sehingga yang terpikir ya semestinya krupuk tersebut termasuk dalam isi nasi langgi dan nasi bogana.

Kalau misal disajikan di kaleng saja, kemungkinan suami ga akan ambil krupuk. Gue masih mungkin ambil, tergantung mood. :P Tapi kalau sudah jadi bagian dari menu pesanan kami, ya pasti kita makan. Selain karena ngga mau rugi :D juga karena kebiasaan menghabiskan makanan yang sudah dipesan, supaya tidak mubazir.

Gue jadi membandingkan dengan penjual nasi ayam pinggir jalan yang setelah selesai makan, si mbok ini akan menghitung apa yang sudah kita makan. Dan kalau kita menyebutkan krupuk, pasti dijawab, krupuknya ngga usah [dihitung]. Ya walaupun mungkin harga krupuknya sudah diperhitungkan ke harga nasi ayamnya, tetap saja ini nilai tambah buat jualannya. ;) Dan setelah selesai makan, perasaan kita selain kenyang, jadi sedikit lebih senang, karena eh, ternyata krupuknya gratis lho.. :D
Beda dengan pengalaman gue diatas, setelah makan, gue jadi agak gondok.. bisa jadi gue merasa lapar lagi.. :o *LHO… =))

Sebenarnya yang sering juga kejadian adalah kalau kita makan di rumah makan sunda atau seafood, dimana sambal dan lalapan dihitung terpisah. :-/ Tetapi kalau kita tidak pesan, tetap saja mereka hidangkan, sehingga asumsi kita, ya pasti kalau pesan ikan akan dapat sambal dan lalapan, udah satu paket, dan semestinya si penjual sudah memperhitungkan ini ke harga mereka.

Sering juga kalau sedang menunggu pesanan, tiba-tiba ada sepiring otak-otak tenggiri mampir ke meja. Padahal kita kan ngga order. Dan otak-otak ini nantinya akan dihitung sejumlah yang dimakan, Mungkin ini strategi dagang yang baik? Ya karena orang yang lagi nunggu pesanannya di sajikan, kan pasti dalam kondisi lapar.. jadi kalau ada cemilan di depan mata, ya cenderung akan dimakan. :P

TrackBack URI | RSS feed for comments on this post

One Response

  1. 1 Growing In Love » Terperosok di lubang yang sama :(
    2008 Dec 12

    [...] pernah punya pengalaman juga dengan kasus yang mirip ini ditempat lain, pelayannya menyajikan krupuk di piring bersama waktu menghantar pesanan nasi rames. Asumsi gue ini [...]